
Point Blank Legenda FPS yang Menolak Mati, Jika kita berbicara tentang sejarah perkembangan industri game online di Indonesia, khususnya genre First-Person Shooter (FPS), mustahil untuk tidak menyebutkan satu nama besar: Point Blank. Sebelum era Valorant, Apex Legends, atau PUBG merajai pasar, Point Blank (atau yang akrab disapa PB) adalah raja tanpa mahkota yang menduduki takhta di setiap sudut warung internet (warnet) di nusantara.
Artikel ini akan mengupas tuntas perjalanan Point Blank, mulai dari mekanisme permainannya yang adiktif, dampaknya terhadap budaya sosial anak muda Indonesia, hingga pasang surutnya di tengah gempuran game modern.
Bagian 1: Kelahiran Sang Legenda
Point Blank dikembangkan oleh Zepetto, sebuah perusahaan pengembang game asal Korea Selatan. Game ini pertama kali dirilis di negara asalnya pada tahun 2008. Namun, ledakan sesungguhnya terjadi ketika game ini dibawa masuk ke Indonesia pada tahun 2009 oleh PT. Kreon melalui portal game mereka, Gemscool.
Pada masa itu, pasar game online Indonesia didominasi oleh MMORPG seperti Ragnarok Online atau Seal Online, serta game ritme seperti Ayodance. Kehadiran Point Blank membawa angin segar. Ia menawarkan aksi cepat, grafis yang cukup memukau (untuk standar tahun 2009) namun ringan untuk spesifikasi PC warnet rata-rata, dan yang paling penting: ia Free-to-Play.
Berbeda dengan Counter-Strike 1.6 yang membutuhkan koneksi LAN atau server khusus yang terkadang rumit bagi orang awam, Point Blank menawarkan sistem matchmaking (room) yang mudah diakses, sistem pangkat (Rank) yang memicu kompetisi, dan toko senjata (Shop) yang memanjakan mata.
Bagian 2: Gameplay dan Mekanisme yang Adiktif
Apa yang membuat Point Blank begitu digemari? Jawabannya terletak pada temponya yang cepat (fast-paced). Point Blank bukan simulasi militer realistis. Ini adalah arcade shooter. Karakter bisa bergerak lincah, melompat sambil menembak, dan respawn dengan cepat dalam mode Deathmatch.
Dua Kubu yang Berseteru
Latar belakang cerita PB sebenarnya cukup klise namun efektif. Konflik terjadi antara CT-Force (polisi/aparat) dan Free Rebels (pemberontak/teroris).
CT-Force: Identik dengan karakter berwarna biru, seperti Acid Pool dan Keen Eyes.
Free Rebels: Identik dengan karakter berwarna merah, seperti Red Bulls dan Tarantula.
Pangkat dan Title
Salah satu fitur paling jenius dari Point Blank adalah sistem RPG yang disematkan dalam game FPS. Pemain memulai dari pangkat tengkorak (Trainee), naik ke strip, diamond, mayor (emas), hingga jenderal (bintang 5).
Setiap kenaikan pangkat memberikan rasa pencapaian. Namun, yang lebih krusial adalah sistem Title. Pemain harus menyelesaikan misi (kartu misi) untuk mendapatkan lencana yang bisa ditukarkan dengan Title. Title ini memberikan efek pasif, seperti mengurangi recoil senjata, menambah kecepatan lari, atau memperkuat pertahanan.
Sistem ini menciptakan gaya bermain yang unik. Ada pemain yang mengambil Title lari (V) agar gesit menggunakan Shotgun, ada yang mengambil Title akurasi untuk Sniper. Inilah yang membuat pemain rela menghabiskan berjam-jam (GB EXP) hanya untuk membuka baret merah (baret Assault) atau baret hijau (baret SMG).
Bagian 3: Senjata-Senjata Ikonik
Tidak lengkap membahas PB tanpa membicarakan gudang senjatanya. Beberapa senjata di Point Blank bahkan menjadi legenda kultur pop di kalangan gamer Indonesia.
Kriss S.V (Batik/Gold): Mungkin ini adalah senjata paling kontroversial dan ikonik. SMG ini memiliki fire rate tinggi, akurasi laser, dan jika menggunakan mode Dual Wield, pelurunya menjadi 60 butir. Di tangan pemain ahli, Kriss S.V. adalah mimpi buruk. Suara “trrrrt” yang khas dari senjata ini adalah suara kematian.
AUG A3: Senjata sejuta umat untuk para Assault. Stabil, damage sakit, dan mudah dikendalikan. Pemain pro sering menyebutnya senjata “laser” karena lurusnya tembakan.
Cheytac M200: Raja dari segala sniper. Suaranya yang menggelegar dan kemampuannya membunuh dalam satu tembakan (one hit kill) ke badan membuatnya menjadi favorit. Teknik Quick Scope (menembak lalu dengan cepat mengganti senjata ke pisau dan kembali lagi) menjadi keterampilan wajib.
M1887 (Shotgun Putar): Senjata favorit rusher. Animasi memutar senjata setelah menembak memberikan gaya tersendiri. Teknik “SG Putar” membutuhkan ritme tangan yang presisi (Q-Q gaming) agar bisa menembak dengan cepat.
K-400 (Bom): Teriakan “Fire in the hole!” yang terus menerus adalah soundtrack wajib setiap permainan.
Bagian 4: Era Kejayaan Warnet (2009-2013)
Periode 2009 hingga 2013 bisa dibilang sebagai “Zaman Keemasan” Point Blank di Indonesia. Fenomena ini mengubah wajah industri warnet. Warnet yang tadinya sepi, mendadak penuh sesak oleh anak-anak sekolah—mulai dari SD hingga SMA, bahkan mahasiswa dan pekerja.
Suasana Warnet
Bayangkan suasana ini: Ruangan remang-remang, penuh asap rokok, suara teriakan anak-anak, dan bunyi keyboard yang dipukul keras. Di layar monitor tabung cembung, terpampang logo Point Blank.
“Woi, bokong, bokong!” (Musuh datang dari belakang).
“Defuse woi, defuse!”
“Yah, FC (Failed Connect)!”
Istilah-istilah ini menjadi bahasa sehari-hari. Paket billing 3 jam atau paket malam (Paket Gadang) menjadi menu wajib. Point Blank bukan sekadar game; itu adalah tempat nongkrong digital.
Voucher Fisik
Sebelum era e-wallet, pemain PB membeli cash (mata uang dalam game) menggunakan voucher fisik. Menggosok kode voucher Gemscool menggunakan koin memberikan sensasi tersendiri yang mungkin tidak dirasakan gamer zaman sekarang. Uang jajan disisihkan demi membeli senjata cash berdurasi 3 hari atau 7 hari. Topeng “Iron Mask” atau karakter wanita (karena hitbox-nya dianggap lebih kecil) adalah barang mewah.
Bagian 5: Peta-Peta Legendaris
Desain level (map) di Point Blank sangat mendukung gameplay yang cepat. Beberapa map menjadi begitu legendaris hingga pemain hafal setiap sudut, celah, dan tempat sembunyi (ngendok).
Downtown: Map paling populer. Lorong sempit, area terbuka di tengah, dan banyak rute flanking. Mode Bomb Mission di sini adalah ujian kekompakan tim.
Luxville: Map favorit para clan war. Desainnya simetris dan adil. Pertarungan memperebutkan koridor panjang di lantai atas (long) sering menentukan kemenangan.
Burning Hall: Arena pembantaian Deathmatch. Sempit dan kacau.
Crackdown: Map unik di mana pemain bisa menghancurkan kaca lantai untuk menjatuhkan lawan. Sering digunakan untuk mode Shotgun atau Pisau.
Red Rock: Map sniper yang luas, tempat para pengguna Cheytac dan L115A1 beradu bidikan.
Bagian 6: Esports dan Kompetisi
Point Blank adalah salah satu pelopor ekosistem esports modern di Indonesia. Jauh sebelum MPL (Mobile Legends) ada, PBNC (Point Blank National Championship) adalah turnamen paling bergengsi di tanah air.
Turnamen ini digelar dari tingkat kota (penyisihan warnet) hingga grand final di Jakarta. Ribuan tim mendaftar. Hadiah ratusan juta hingga miliaran rupiah menjadi magnet yang luar biasa.
Selain PBNC, ada PBIC (Point Blank International Championship), di mana tim Indonesia sering kali menjadi macan dunia. Tim-tim legendaris seperti RRQ Endeavour (yang diisi oleh NextJacks, Talent, dll) lahir dari kawah candradimuka ini. NextJacks bahkan dijuluki sebagai “Bapak AWP Indonesia” karena kemahirannya menggunakan sniper. Prestasi tim Indonesia di kancah dunia membuktikan bahwa talenta gamer tanah air tidak bisa dipandang sebelah mata.
Bagian 7: Sisi Gelap: Cheater dan “Program Ilegal”
Sayangnya, sejarah Point Blank tidak bisa dipisahkan dari wabah cheater. Seiring populernya game ini, muncul pula para perusak kesenangan yang menggunakan program ilegal.
Wallhack: Bisa melihat tembus tembok.
Aimbot: Tembakan otomatis mengenai kepala.
Auto Headshot: Peluru mengejar kepala musuh.
Istilah “Pekalongan” menjadi sangat terkenal, bukan karena batiknya, tapi karena sering diasosiasikan dengan komunitas pembuat cheat (meskipun ini generalisasi). Penggunaan cheat merajalela di server publik (Public Server). Pemain jujur sering kali frustrasi. Fitur Vote Kick yang seharusnya digunakan untuk mengusir cheater, malah sering disalahgunakan oleh cheater (yang bermain keroyokan satu warnet) untuk mengusir pemain jago yang dikira cheat.
Masalah cheat inilah yang menjadi salah satu faktor penurunan popularitas PB di era Gemscool. Meskipun banned massal sering dilakukan, cheater selalu “mati satu tumbuh seribu”.
Bagian 8: Migrasi Besar: Dari Gemscool ke Garena, lalu Zepetto
Sejarah PB di Indonesia diwarnai oleh perpindahan tangan pengelola (Publisher).
Era Garena (2015-2018)
Pada Juni 2015, kontrak Gemscool berakhir. Hak penerbitan Point Blank di Indonesia diambil alih oleh Garena Indonesia. Ini adalah momen besar. Garena menjanjikan server yang lebih stabil, pemberantasan cheater yang lebih tegas, dan ekosistem esports yang lebih profesional.
Akun lama dari Gemscool bisa ditransfer ke Garena. Di era ini, PB mendapatkan “napas kedua”. PB Garena Championship Series (PGCS) digelar. Garena berhasil membersihkan game ini dari cheat secara signifikan pada masa-masa awal, mengembalikan kepercayaan pemain.
Era Zepetto (2019 – Sekarang) Point Blank Legenda FPS yang Menolak Mati
Pada tahun 2019, Garena melepas Point Blank. Kali ini, Zepetto (sang developer asli dari Korea) memutuskan untuk membuka kantor cabang di Indonesia dan mengelola gamenya sendiri. Nama game berubah menjadi Point Blank Zepetto atau Point Blank Beyond Limits.
Di bawah Zepetto, update konten menjadi sangat cepat karena tidak ada lagi perantara antara developer dan pemain. Map baru, senjata baru, dan mode baru (seperti Battle Royale mode yang sempat dicoba) diperkenalkan untuk menjaga relevansi game.
Bagian 9: Point Blank di Era Modern
Bagaimana nasib Point Blank sekarang? Harus diakui, masa kejayaannya sebagai game nomor satu sudah lewat. Serbuan game mobile (Mobile Legends, PUBG Mobile, Free Fire) dan game PC modern (Valorant) telah menggerus basis pemainnya.
Namun, Point Blank menolak mati. Komunitasnya di Indonesia masih sangat loyal dan aktif.
Nostalgia Factor: Banyak pemain lama yang sudah bekerja dan berkeluarga kembali bermain (login) hanya untuk melepas rindu, mendengar suara “Headshot!”, dan bermain santai.
Kompetisi Akar Rumput: Turnamen-turnamen kecil (fun match) masih sering digelar oleh komunitas atau klan.
Spesifikasi Ringan: Di daerah-daerah di mana spesifikasi PC warnet belum mampu mengangkat Valorant dengan lancar, Point Blank masih menjadi primadona.
Point Blank juga mencoba merambah pasar mobile dengan Point Blank: Strike, namun sayangnya tidak bisa menyaingi dominasi PUBG Mobile dan akhirnya tutup.
Bagian 10: Dampak Sosial dan Budaya
Point Blank mengajarkan banyak hal kepada satu generasi gamer Indonesia.
Kerja Sama Tim: Dalam Clan War, skill individu (aim) saja tidak cukup. Dibutuhkan komunikasi, pembagian tugas (siapa yang rush, siapa yang cover), dan strategi.
Ekonomi Digital: Transaksi jual beli akun (Char), joki pangkat (GB), hingga jual beli senjata gift, mengajarkan dasar-dasar ekonomi digital kepada remaja.
Persahabatan: Banyak persahabatan di dunia nyata yang terjalin bermula dari satu Clan di PB. Istilah “Gathering Clan” menjadi agenda rutin di akhir pekan.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Game
Point Blank adalah sebuah fenomena. Bagi generasi yang tumbuh di akhir 2000-an dan awal 2010-an, PB adalah bagian tak terpisahkan dari masa remaja.
Ia adalah saksi bisu teriakan kegembiraan saat memenangkan round terakhir di Luxville, saksi kekesalan saat bertemu cheater terbang, dan saksi habisnya uang jajan demi sebuah Kriss S.V. Batik 3 hari.
Meskipun grafiknya kini terlihat “kotak-kotak” dibandingkan game modern, gameplay raw dan kepuasan instan yang ditawarkan Point Blank sulit dicari tandingannya. Suara double kill, triple kill, hingga chain killer masih memberikan dopamin yang sama. Point Blank Legenda FPS yang Menolak Mati
Point Blank mungkin tidak lagi menjadi raja di puncak singgasana, tetapi ia telah menjadi legenda abadi dalam buku sejarah video game Indonesia. Selama masih ada satu warnet yang buka dan satu PC yang menginstal klien PB, semangat Troopers tidak akan pernah padam.
Salam Headshot!
